kerap kita jumpai banyak dari saudara kita yang duduk termenung di sudut-sudut pinggiran kota (ataukah kota pinggiran?). mereka belumuran lupur, peluh yang bercucur di dahi, tangan yang tidak bisa dihentikan untuk tetap mengorek tempat sampah. berharap ada makanan? atau emas yang terbuang?
kita kerap tidak sadar apa yang kita lakukan adalah sebuah penyiksaan dan penindasan bagi saudara kita, karena kekerasan yang terbesar dilakukan oleh tindakan dan sikap kita dan negara kita (tercinta untuk negara tapi bukan untuk pemerintahan!).
"kita tidak pernah menyadari bahwa kita juga terlibat dalam penindasan bagi saudara kita" - noam chomsky
ingin bukti akan kata-kata tersebut?
berapa liter produk nestle yang sudah kita konsumsi? berapa lembaran uang kita berikan untuk produk nike? dan berapa waktu kita buang untuk mendengarkan produk-produk sony?
ironisnya, tiap uang yang kita keluarkan untuk produk-produk dari korporasi multinasional adalah untuk membesarkan perut-perut para pemodal dan bukan untuk mensejahterakan para buruhnya, dan yang lebih parah adalah bahwa negara kita tidak dapat bertindak tegas, mereka mengeluarkan regulasi-regulasi kotor untuk menyokong para pemodal untuk bebas beraksi, ditambah pemblokiran media massa dan penggunaan doublespeak dan doublethink mereka (kata yang digunakan untuk mengaburkan makna asli yang terkandung).
ibu-ibu yang baru melahirkan sudah dibenamkan pada tatanan kapitalis. bayi-bayi mereka sudah disuguhkan oleh susu formula sejak lahir bukan oleh ASI yang menurut riset dokter adalah makanan yang paling baik untuk bayi (bayi memiliki sifat peka terhadap barang pertama yang mereka konsumsi seperti apabila diberikan ASI pertama maka dia akan terus mengonsumsinya). sekalipun ibu-ibu tersebut memberi mereka ASI, tetapi itu bukanlah ASI pertama. bila ibu bersikeras ingin memerikan ASI, maka disinilah peranan doublespeak, doublethink dari pihak rumah sakit dimulai. dengan dalih bahwa payudara dapat kendor (bagi ibu-ibu muda), bayi tetap membutuhkan vitamin dan zat-zat yang hanya terkandung di susu formula, dll. maka si ibu perlahan akan menghentikan suplai ASI nya, sehingga apabila payudara tidak lagi mendapat rangsangan maka ASI akan berhenti diproduksi. yang lebih bengis adalah bahwa dibalik istansi sebesar dan sepenting rumah sakit pun dinaungi oleh korporasi-korporasi kapitalis (seperti nestle, unilever, dll.).
pernahkah kalian melihat televisi? (sebuah kotak yang banyak mengumbar kebohongan dan pastinya kalian konsumsi termasuk saya)
akhir-akhir ini di Indonesia sedang digemparkan oleh isu seorang kyai menikah dengan anak berusia 12 tahun. saat itu komnas anak bersikeras untuk menentangnya. diwakili kak seto (si komo itu lho) menangkap si kyai tersebut. namun saya masih memiliki sebuah pertanyaan.
apakah Komnas perlindungan anak tidak menyadari atau tidak peka akan eksploitasi anak sekarang-sekarang ini?
mereka memiliki peraturan yang menyebutkan bahwa anak yang belum cukup umur tidak dapat dipekerjakan (dibawah umur 16 dinyatakan belum dewasa), dan bila mereka dipekerjakan maka itu termasuk dalam eksploitasi.
dimana peran lembaga negara yang mengatasnamakan kesejahteraan bagi anak-anak tetapi masih banyak bocah-bocah mengemis dipinggir jalan? anak-anak desa yang masih menderita busung lapar, dan anak-anak yang menerima intervensi dari keluarga? dimana perannya?
terlebih lagi adalah eksploitasi yang dihalalkan oleh pemerintah ini adalah banyaknya anak-anak dibawah umur yang mulai diorbitkan menjadi artis. satu contoh adalah film "tarzan cilik" di salah satu stasiun tv swasta. dan acara "idola cilik" yang merupakan salah satu acara dan fasilitas untuk mendewasakan anak sebelum waktunya (bayangkan anak berumur 12 tahun sudah dicekoki lagu cinta dan bukan diberikan lagu yang pantas bagi mereka, sehingga pantas banyak yang bunuh diri akibat lagu cinta!). dan itu semua sebenarnya diatur oleh pikiran-pikiran para kaum proletar dan kapital. kini ibu-ibu lebih senang memberikan anak mereka program tv dari "disney chanel" dibandingkan program tv "laptop si unyil". patas apabila anak-anak kini banyak sekali yang tidak mengenal tradisi, kesenian, dan alam kita. mereka dari kecil sudah diberikan racun-racun barat sehingga tidak pernah terpupuk rasa dan semangat cinta tanah air sehingga mereka sudah di plot menjadi watak kapitalis (mereka tidak berpikir bahwa mereka cinta negeri mereka dan melakukan sebuah perubahan, tetapi mereka berpikir lebih baik tinggal di negeri orang dan hidup kaya raya).
pertanyaan terakhir untuk mengingatkan kalian semua
"SUDAH SEHATKAH ANAK-ANAK INDONESIA?"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment